News Detail

Wakil Petani Kakao Aceh Dilatih Jadi Trainer

Saree– Guna meningkatkan produktivitas tanaman kakao di Aceh, sebagian petani direkrut untuk mengikuti Training of Trainer (TOT). Tujuannya setelah mengikuti TOT tersebut, para petani kakao nantinya dapat mentransfer ilmunya kepada petani lain di Aceh, terkait bagaimana melakukan budidaya kakao yang baik.

Program TOT untuk petani kakao tersebut difasilitasi oleh Action Aid Australia (AAA) – Keumang. Program ini merupakan bagian dari Program Peningkatan Daya Saing Rantai Nilai Kakao Aceh- untuk peningkatan pendapatan petani kecil, membuka lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan. Program didanai oleh Multi Donor Fund (MDF) melalui proyek Economic Development Financing Facility (EDFF), di bawah pengawasan Bank Dunia dan melibatkan pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh.

Direktur Keumang, Yusri Yusuf mengatakan program TOT petani kakao dilakukan sekitar dua minggu yang dimulai pada 25 Oktober – 5 November 2010 di Saree, Aceh Besar. Pelatihan diikuti oleh 30 orang, yang terdiri dari 18 orang perwakilan petani kakao yang menjadi field worker program AAA-Keumang, sembilan orang dari penyuluh pertanian, dan tiga orang penyuluh AAA-Keumang. “Mereka berasal dari tiga kabupaten yang masuk dalam program; Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur,” ujarnya, Kamis (28/10/2010).

Dia menerangkan, TOT merupakan bagian program untuk pembinaan petani kakao Aceh dan penyuluh AAA-Keumang, untuk keseragaman pemahaman dan strategi pada semua wilayah program terkait budidaya kakao. “Sehingga kemampuan petani dapat ditingkatkan dengan baik dan merata.”

Hasil dari TOT nantinya menjadi acuan, pedoman dalam pelaksanaan program dan pembinaan petani kakao. Juga mengajak petani lebih berpatisipasi dalam melakukan pembinaan kepada sesama petani, sehingga menghasilkan output produktivitas kakao Aceh menjadi lebih baik.

Head of Training Center AAA – Keumang, Khairul Anwar mengatakan mereka yang dilatih nantinya akan menurunkan ilmu kepada petani kakao di daerah masing-masing, secara berkelanjutan. Sehingga pemahaman petani dalam budidaya tanamam kakao menjadi lebih baik.

Menurut Khairul, para pemateri dalam pelatihan tersebut berasal dari akademisi dan professional di bidangnya, Seperti Dr Adi Prawoto dan Endang Sulitiowati dari Indonesia Coffe and Cocoa Research Institute (ICCRI), Dr Sugianto dan Eti Indarti dari Universitas Syiah Kuala, Sulaiman Ginting dari UISU Medan dan N. Akelaras dari UD Tani Mas. Materi yang disampaikan dalam TOT tersebut adalah persiapan lahan dan pembibitan kakao, pengembangan pembibitan dan peremajaan kakao, peningkatan kesuburan lahan, manajemen perkebunan serta panen dan paskapanen kakao.

Salah seorang pemateri, N Akelaras mengungkapkan peningkatan hasil produksi suatu tanaman termasuk kakao, harus dimulai dari pembibitan. Dia mengajarkan para peserta bagaimana melakukan pengembangan pembibitan dan peremajaan kakao. Peserta diajarkan bagaimana menyambung bibit, teknik tempel dan teknik okulasi dengan bibit unggul kakao. “Bibit unggul akan menghasilkan produksi yang baik nantinya,” kata Akelaras yang dikenal dengan keahliannya dalam melakukan rekayasa bibit.